My Movie Life (Part 1)

Diposkan oleh Fauzi | 10:57 | ,
Share

[Gue membaca sebuah majalah film dan menemukan sebuah artikel menarik mengenai film-film dalam kehidupan. Terinspirasi dari situ, gue menyusun film-film dalam hidup versi gue sendiri]

The first movie i ever saw


Gue menonton film Star War : The Phantom of Menace pada tahun 1996. Tapi film pertama yang gue tonton secara utuh dan mampu gue nalar dengan baik adalah X-MEN (2000). Sebuah film superhero yang diangkat dari komik berjudul sama. Tapi, daripada melihat para superhero mutan itu beraksi dengan segala kekuatannya yang tidak masuk akal, gue justru lebih tertarik dengan chemistry yag dibentuk antara dua tokoh utama film itu, Logan (Hugh Jackman) dengan Rogue (Anna Paquin). Chemistry yang mereka bentuk menggambarkan hubungan kasih sayang sempurna, tanpa nafsu. Seperti hubungan antara Ayah dan anak perempuan, atau antara abang dengan adik. Benar-benar film superhero dengan 'human interest' yang menonjol. Dialog-dialog di film ini juga cukup bagus, terutama di awal ketika Logan dan Rogue pertama bertemu sampai akhir ketika mereka harus berpisah karena suatu hal.
Berikut dialog awal dan akhir yang mungkin membuat film ini benar-benar "tidak biasa" di hati gue.

(Logan dan Rogue pertama kali bertemu)

Logan : (Menemukan Rogue berbaring tidur di atas truknya) Hey!! What the hell are you doing?

Rogue : (Terbangun) I'm sorry. I need a ride. I thought you could help me. I...a don't have any money. Could you give me a lift to the next town or . . .

Logan : Get out!

Rogue : But we're in the middle of nowhere. What am i supposed to go?

Logan : I don't know.

Rogue : You don't know, or you don't care?

Logan : Pick one!

Dan logan yang super duper cuek itu nantinya akan menjadi manis seperti ini di akhir cerita (setelah melalui adegan seru di sepanjang film tentunya) :

(Logan, ketika menuju gerbang sekolah Mutan untuk pergi diam-diam. Rogue yang sadar, mengejar dari belakang)

Rogue : Hey!

(Logan membalikan badan dan memandang ke arah Rogue)

Rogue : You running again?

Logan : No, not really. I've got some things to take care of up north.

Rogue : Oh . . .

(Mereka terdiam selama beberapa saat. Kemudian logan menyibakkan rambut Rogue yang memutih (akibat suatu insiden didalam film) ke belakang telinga. Rogue tersenyum)

Rogue : I kinda like it.

Logan : Yeah.

Rogue : I don't want you to go.

(Logan Mencari-cari sesuatu di dalam tasnya, kemudian mengeluarkan sebuah kalung. Dia menggamit tangan rogue, kemudian meletakan kalung itu di telapak tangan rogue, menggenggamkannya diantara jemari Rogue. Mereka bertatapan erat)

Logan : I'll be back for this.

Ahhhhhh, romantis sekali :")

The Ugly Truth

Diposkan oleh Fauzi | 10:53 |
Share


14
Gue sedang berbaring di tempat tidur, antara terjaga dan bangun, teringat tweet yang dimentionkan ke gue tadi malam

@someone : @pojikk RT @RadioGalauFM Ngarep sama orang yang gak pengen-pengen banget sama kita itu rada bego juga sih.

Dalem banget. Jika ngarep yang seperti itu dilakukan untuk sebuah percintaan bolehlah disebut bego. Tapi jika untuk hubungan pertemanan, mengharapkan yang seperti itu, apa namanya? totol mungkin.

@pojikk : "Berarti mereka gak pengen2 banget sama aku dong ya?" tanya gue singkat.

@Someone : "Yaa begitulaa jii.." Balasnya.

Buat gue, ini lebih dari hanya sekedar kenyataan pahit. Ini namanya . . . sesuatu!

15
Kejadian-kejadian yang gue alami dalam beberapa hari terakhir ini memberikan gue ide untuk menulis sebuah cerita pendek. Rencananya cerpen ini akan gue kirimkan ke tabloid remaja lokal. Maka, pukul delapan lewat lima belas menit gue langsung pergi ke warnet sebelah rumah. Sebuah warnet game online 24 jam. Operatornya adalah temen gue yang sedang menjalani liburan semester sambil kerja.

"Wah, pagi-pagi tampangmu udah kusut aja zi. Belum bisa move on juga?" candanya ketika melihat gue memasuki warnet dengan wajah tertekuk.

"Jelasin dulu arti 'move on' ke aku, baru ngomong!" Sindir gue. Dia diam saja. Gue yakin, sama seperti gue, dia pasti tidak tahu persis definisi 'move on" yang dia sebutkan tadi dan malas untuk membahasnya.

16
Selesai menulis cerpen , gue sign in ke Yahoo Messenger yang sudah lebih dari sebulan tidak gue buka. Account Yahoo Messenger gue hanya berisi 20 kontak teman. Ke 20 orang itu adalah orang pilihan yang menurut gue sangat asyik diajak chatting dan membahas apa saja. Dengan memasang mode 'insivible' gue pun melihat siapa yang sedang online. Gue melihat si gadis berkacamata available. Kebetulan, pikir gue.

17
Gue bisa bilang gadis berkacamata yang ada di daftar kontak gue itu adalah gadis yang open-minded. Gampang diajak ngobrol bahkan hal aneh sekalipun. Tapi, dia juga seorang introvert sejati. Selain suka cuek tanpa aba-aba, dia juga sangat pintar dalam mengakhiri pembicaraan secara sepihak. Jika bukan karena status 'senior yang gue sandang, atau jika gue bukan orang yang gemar dalam mengambil inisiatf duluan, gue mungkin tidak akan pernah ditanggapi olehnya.

18
Ada peraturan tak tertulis yang gue buat sendiri jika ingin memulai sebuah pembicaraan dengannya. Gue harus tahu benar apa yang akan gue bicarakan. Basa-basi jelas dilarang. Maka jangan heran jika kalimat sapaan untuk membuka chatting gue bisa jadi sebuah kalimat yang panjang seperti ini : (Gue menyamarkan namanya sebagai stu)

"Stu, mau minta tolong. Aku nulis cerpen. Proyeksinya untuk dikirim ke tabloid lokal. nah, boleh minta dikomentarin enggak?"

Dan untunglah kalimat sapaan super to the point itu dibalas dengan baik.

"Oh boleh bang. Mumpung lagi gak ada kerjaan nih. Mana cerpennya?"

Gue pun mengirim naskahnya via YM, memberikan waktu kepadanya untuk membaca dan menantikan responnya terhadap isi cerpen itu.

19
Sebenarnya, cerpen apa sih yang gue tulis?
Gue hanya menulis sebuah komedi muram dengan pesan tersirat yang mungkin hanya akan ditemukan jika cerpen itu dibaca dengan hati.
Cerpen itu kisah gue sendiri.

20
Satu jam kemudian, gue chat dia lagi.

"Gimana?" Tanya gue.

"Haha, ada-ada aja bang cerpennya."

Sebenarnya "haha" saja sudah merupakan pertanda bagus. Tapi yang gue harapkan dia bisa membaca pesan yang gue selipkan si tiap paragraf dalam cerpen itu.

"Apanya yang 'ada-ada aja'?" Tanya gue memancing.

"Cerpennya bang, ini kejadian beneran kah?"

"Kenapa berpikir gitu?"

"Karena ada nama kakak itu disini."

Soal nama itu memang gue sengaja.

"Jadi komentarnya apa nih?"

"Ntar dulu deh, kalau ini beneran kisah yang abang alami, berarti miris banget dong ya? Abang merasa gak punya tempat lagi diantara teman-teman abang dan mencoba memberi sinyal. Tapi mereka tidak peduli dan malah menganggap tindakan abang itu kekanak-kanakan. Kasian banget."

"Kamu ini .. -_-' tapi yah memang, aku jadi merasa bego."

"Abang itu enggak bego lo."

"Oh ya? makasi hehe."

"Abang itu menyedihkan. Hahaha."

"Kenapa malah ketawa?"

"Habisnya, aneh aja."

"Apanya lagi yang aneh?"

"Itu lo, abang merasa gak punya tempat lagi diantara mereka."

"Terus?"

"Aneh kan? kenapa abang merasa gak punya tempat? Seharusnya itu bukan masalah besar. Abang kan ramping. Kan gampang nyelip tuh diantara mereka. Masa gak ada tempat sih buat orang seramping abang?"

"Haaaah? kamu ini bikin makin miris."

"Haha, btw, udah buat resolusi untuk tahun ini bang?"

"Belum. gak sempat. kenapa?"

"Mau aku buatin?"

"Apaan?"

"No more galau please!! Hihi."

"Itu namanya resolusi? doyan banget bercanda."

"Aku serius loh. Ini kalau aku enggak salah, masa kuliah abang tinggal setahun lagi kan? setahun itu bentar lo bang. Dan itu masih mau diisi dengan kegalauan yang tidak penting juga?"

Kali ini gue diam. Tidak membalas.

"Setahun lagi lo bang. Cobalah nikmati itu." Lanjutnya.

Gue tetap tidak membalas. Setahun lagi ya? waktu berjalan begitu cepat.

"Maaf bang kalau aku sok tahu." balasnya lima menit kemudian.

Gue tetap tidak menjawab. Gue berpikir. kemudian gue sign out tanpa pamit. Mencoba memikirkan rencana selanjutnya.