Ada satu tips menarik dari majalah remaja cowok yang menyatakan seperti ini : sibukan dirimu, dengan begitu kamu tidak akan memikirkan betapa pahitnya kesepian. Sebagai seorang jomblo yang berpendidikan. Jomblo yang kaya akan asam garam kesendirian. Gue pun mencoba tips itu. Gue akan melakukan apa saja untuk meminimalisir frekuensi kegalauan gue per minggunya. Gue pun menyibukkan diri. Gue mencoba melakukan banyak hal. Membaca, menonton, menulis, memotret, ikut klub olahraga, ikut kursus ini dan itu. Gue hampir tidak punya waktu untuk melamun. Tidak punya waktu melamun artinya yang ada dikepala gue adalah kesibukan-kesibukan. Hampir tidak ada ruang untuk memikirkan betapa menyedihkannya hidup sebagai jomblo veteran. Di luar dugaan, ternyata satu tips dari majalah tersebut ampuh.
Ampuh untuk beberapa minggu.
Hidup ternyata tidak simpel. Hidup tidak sesimpel itu. Sebuah tips mungkin bisa membantu, tapi tidak akan jadi jalan keluar dari masalah. Oke gue akhirnya bisa menjadi 'sibuk' dan akhirnya pikiran gue teralihkan. Tapi gue melupakan satu hal, bahwa kesibukan itu juga seperti pisau bermata dua. Di satu sisi gue mendapatkan efek positif, yaitu tidak punya waktu untuk galau. Sisi negatifnya, menjadi 'sibuk' berkorelasi dengan menjadi 'capek'. Hampir semua kegiatan-kegiatan yang gue lakukan itu menguras tenaga. Dan jika sudah capek, efek selanjutnya adalah malas. Malas melakukan apa-apa. Bawaannya pengen tiduran terus. Nah, kalau sudah 'nganggur' seperti itu, otomatis bosan pun datang.
Coba tebak selanjutnya apa?
Apa yang biasanya orang lakukan jika sedang malas-malasan dan bosan? Online. Dan online identik dengan sosial media. Dan 2 besar sosial media saat ini dikuasai oleh duo facebook dan twitter. Dimana tren facebook sudah mulai bergeser ke twitter sekarang ini. Buktinya, anak-anak alay yang dulunya suka main facebook sekarang sudah migrasi ke twitter. Apalagi semenjak presiden negara ini membuat akun twitter resminya, bahkan bokap gue yang umurnya sudah kepala 5 pun jadi tertarik menggunakan sosial media yang satu ini. Begitu hebatnya twitter, sehingga pelarian terakhir gue untuk menumpahkan semua kegalauan akibat jomblo tak lain dan tak bukan adalah twitter.
Masalah belum selesai.
Twitter sekarang bukanlah twitter empat tahun yang lalu. Selain karena semakin banyaknya orang alay di sana, perbedaan yang sangat mencolok antara twitter gue dulu dan sekarang adalah, sekarang teman gue sudah banyak yang pensiun dari dunia perkicaun ini (baca : tidak aktif). Jadi kalau temen-temen gue sudah tidak lagi meramaikan timeline, siapa yang akan peduli dengan kegalauan gue itu? siapah? tidak ada.
Empat tahun lalu, saat gue baru buat akun dan teman-teman gue masih aktif, twitter merupakan social media yang sangat asik. Twit gue yang remeh dan gak penting sekalipun pasti dapat respon. Mention selalu penuh. Beberapa bahkan gak sempat dibalas. Nah, sekarang? selucu, semenarik, seaneh, sealay apapun twit yang gue bikin, respon selalu nol. Mau nulis gue mau bunuh diri atau mau makan orang atau boker di celana tetap aja mention kosong.
Cek besok paginya, mention tetap kosong.
Cek seminggu kemudian, kosong lagi. Gitu terus sampai kiamat.
Dari ilustrasi diatas, maka terciptalah formula seperti ini : Galau + Twitter = Makin galau cius miapah.
Kegiatan menyibukkan diri untuk menghindari kegalauan, jadinya makin galau.
Menyibukan diri untuk melupakan sesuatu (entah itu suatu masalah atau bisa juga mantan atau bisa juga gebetan yang udah jadian, hiks) mungkin efektif. Tapi sifatnya sementara. Karena yang akhirnya gue sadari adalah dengan menyibukkan diri gue hanya mencoba melarikan diri dari masalah.
Memangnya masalah bakal selesai jika gue cuma bisa lari?
Kata teman, gue harusnya mencari gebetan baru. Hmmm, menurut kalian?
.
Read more >>




