The Uneasy

Diposkan oleh Fauzi ON 27 April 2013
Ada satu tips menarik dari majalah remaja cowok yang menyatakan seperti ini : sibukan dirimu, dengan begitu kamu tidak akan memikirkan betapa pahitnya kesepian. Sebagai seorang jomblo yang berpendidikan. Jomblo yang kaya akan asam garam kesendirian. Gue pun mencoba tips itu. Gue akan melakukan apa saja untuk meminimalisir frekuensi kegalauan gue per minggunya. Gue pun menyibukkan diri. Gue mencoba melakukan banyak hal. Membaca, menonton, menulis, memotret, ikut klub olahraga, ikut kursus ini  dan itu. Gue hampir tidak punya waktu untuk melamun. Tidak punya waktu melamun artinya yang ada dikepala gue adalah kesibukan-kesibukan. Hampir tidak ada ruang untuk memikirkan betapa menyedihkannya hidup sebagai jomblo veteran. Di luar dugaan, ternyata satu tips dari majalah tersebut ampuh. 

Ampuh untuk beberapa minggu.

Hidup ternyata tidak simpel. Hidup tidak sesimpel itu. Sebuah tips mungkin bisa membantu, tapi tidak akan jadi jalan keluar dari masalah. Oke gue akhirnya bisa menjadi 'sibuk' dan akhirnya pikiran gue teralihkan. Tapi gue melupakan satu hal, bahwa kesibukan itu juga seperti pisau bermata dua. Di satu sisi gue mendapatkan efek positif, yaitu tidak punya waktu untuk galau. Sisi negatifnya, menjadi 'sibuk' berkorelasi dengan menjadi 'capek'. Hampir semua kegiatan-kegiatan yang gue lakukan itu menguras tenaga. Dan jika sudah capek, efek selanjutnya adalah malas. Malas melakukan apa-apa. Bawaannya pengen tiduran terus. Nah, kalau sudah 'nganggur' seperti itu, otomatis bosan pun datang. 

Coba tebak selanjutnya apa? 

Apa yang biasanya orang lakukan jika sedang malas-malasan dan bosan? Online. Dan online identik dengan sosial media. Dan 2 besar sosial media saat ini dikuasai oleh duo facebook dan twitter. Dimana tren facebook sudah mulai bergeser ke twitter sekarang ini. Buktinya, anak-anak alay yang dulunya suka main facebook sekarang sudah migrasi ke twitter. Apalagi semenjak presiden negara ini membuat akun twitter resminya, bahkan bokap gue yang umurnya sudah kepala 5 pun jadi tertarik menggunakan sosial media yang satu ini. Begitu hebatnya twitter, sehingga pelarian terakhir gue untuk menumpahkan semua kegalauan akibat jomblo tak lain dan tak bukan adalah twitter.

Masalah belum selesai.

Twitter sekarang bukanlah twitter empat tahun yang lalu. Selain karena semakin banyaknya orang alay di sana, perbedaan yang sangat mencolok antara twitter gue dulu dan sekarang adalah, sekarang teman gue sudah banyak yang pensiun dari dunia perkicaun ini (baca : tidak aktif). Jadi kalau temen-temen gue sudah tidak lagi meramaikan timeline, siapa yang akan peduli dengan kegalauan gue itu? siapah? tidak ada. 

Empat tahun lalu, saat gue baru buat akun dan teman-teman gue masih aktif, twitter merupakan social media yang sangat asik. Twit gue yang remeh dan gak penting sekalipun pasti dapat respon. Mention selalu penuh. Beberapa bahkan gak sempat dibalas. Nah, sekarang? selucu, semenarik, seaneh, sealay apapun twit yang gue bikin, respon selalu nol. Mau nulis gue mau bunuh diri atau mau makan orang atau boker di celana tetap aja mention kosong.

Cek besok paginya, mention tetap kosong.

Cek seminggu kemudian, kosong lagi. Gitu terus sampai kiamat.

Dari ilustrasi diatas, maka terciptalah formula seperti ini : Galau + Twitter = Makin galau cius miapah.

Kegiatan menyibukkan diri untuk menghindari kegalauan, jadinya makin galau.
Menyibukan diri untuk melupakan sesuatu (entah itu suatu masalah atau bisa juga mantan atau bisa juga gebetan yang udah jadian, hiks) mungkin efektif. Tapi sifatnya sementara. Karena yang akhirnya gue sadari adalah dengan menyibukkan diri gue hanya mencoba melarikan diri dari masalah. 

Memangnya masalah bakal selesai jika gue cuma bisa lari? 

Kata teman, gue harusnya mencari gebetan baru. Hmmm, menurut kalian?




Read more >>

A Nothing Man

Diposkan oleh Fauzi ON 13 April 2013
Suram itu seperti ini : mahasiswa tingkat akhir, sedang stres skripsi, dan tidak ada tanda-tanda jomblo segera berakhir. Ujar gue kepada salah seorang teman tadi siang. Temen gue ini juga jomblo, dan sialnya dia kelihatan tenang-tenang saja. Jelas. Dia termasuk mahasiswa rajin, baik-baik, dan intelegensinya diatas rata-rata. Rambutnya agak gondrong dan rapi. Sedangkan rambut gue tidak gondrong tapi tidak juga rapi. Dan dia dikelilingi banyak perempuan. Jadi waktu itu kami tidak berdua. Kami duduk dikantin berempat. Gue, dia, dan dua orang temen ceweknya.

"Jadi, gimana. Mau gak nih, ke kafe 22. Nonton bareng disana."

Jadi supaya malam minggu gue enggak seperti kemarin-kemarin, rencananya gue mau ngajak dia nonton bareng pertandingan bola di salah satu kafe langganan gue. Kafe tempat ngumpulnya suporter Arsenal.

"Dia gak boleh ikut."

Ini bukan temen gue yang ngomong. Ini temen ceweknya temen gue yang nyerocos.  

"Dia ada acaranya sama kami. Pokoknya gak boleh."

Gue pura-pura acuh. 

"Gimana? mau enggak?" Goda gue. 

Dia cuma senyum-senyum mesem. Dengan halusnya dia jawab.

"Ntar malam aku mau jalan sama mereka."

Ihik. Ditolak cewek sakit. 'Ditolak' cowok pun ternyata sakit juga. Memang nasib gue selalu ditolak. Tadi gue mau bantuin nenek-nenek nyebrang juga ditolak. Rupanya dia bukan mau nyebrang. Dia mau nyetop angkot.

Jadi disinilah gue. Forever alone. Di kafe. Sendirian. Diincer om-om. Pertandingan bola mulai masih satu jam lagi. Daripada gue bengong, gue mutusin manfaatin wifi buat nulis blog sepatah dua patah kata. Mumpung udah seminggu gak nulis.

Coffe-ing Alone~
Kebiasaan gue sebelum nulis adalah browsing quote qoute film seru yang bisa dijadikan referensi. Entah kenapa karena nasib gue kacau abis malam ini, atau karena suasana kafe yang chaos, gue jadi teringat salah satu film komedi romantis yang cukup terkenal di akhir tahun 80an. When Harry Met Sally. Kebetulan scene-scene memorable di film ini banyak bersetting di kafe. Film ini mengangkat topik tentang persahabatan pria dan wanita. Dimana konklusinya adalah, pria ataupun wanita tidak akan pernah bisa berteman murni dengan lawan jenisnya. Pasti ada perasaan lebih. Paling tidak disalah satu pihak.

Oh ya? gue termasuk dari (hanya) sedikit orang yang sangat tidak setuju dengan konklusi film tersebut. Bisa kok berteman dengan lawan jenis tanpa perasaan apa-apa. Gue selama ini berteman sama cewek-cewek oke oke aja tuh. Gak ada perasaan mau lebih atau mau ngutang gitu (loh?). Ngg, kayaknya sih gitu. Gue sering mendengar curhat sana-sini. Dengan senang hati. Gue seneng denger yang begitu-begituan (untuk modal jadi suami kelak ...hoek). Kalaupun ada anomali dalam kisah persahabatan gue dengan lawan jenis, itu mungkin cuma terjadi sekali, dan gue juga gak tahu kenapa anomali tersebut bisa terjadi

Jadi pernah suatu waktu, sekitar setahun yang lalu, gue ada berteman lumayan dekat sama cewek. Waktu itu gue sedang ada masalah yang cukup gawat. Gue stres. Gue mulai tidak waras. Dan karena semua teman gue lagi sibuk ngerjain tugas akhir dan gak ada yang mau denger cerita gue, ya tidak ada cara lain gue akhirnya sms cewek ini. Toh selama ini dia sering cerita ke gue. Jadi wajar saja kan kalo gue balik curhat ke dia. Waktu itu kebetulan gue sedang jomblo (teteup).

"Ngg, hai, Bisa ngomong gak? tapi berdua aja ya? penting."

Memang cerita gue itu sangat penting. Sifatnya rahasia besar dan mungkin gak sembarang orang bisa gue percayai untuk mendengarkannya. Waktu itu dia jawab :

"Kok mesti berdua?"

Dalam hati gue, masa bersepuluh? masa sebuah cerita rahasia dan penting dan menyangkut aib seseorang (baca : aib gue sendiri) harus didiskusikan banyak orang.

"Ya karena penting." Gue jawab. Agak kurang meyakinkan kedengarannya. Tapi memang itulah.

"Oh, oke, nanti ya katanya."

Dan nanti yang dimaksud tidak pernah terjadi. Anehnya setelah itu dia kesannya menjauh. Susah dihubungi. Ketika jumpa moodnya  tidak pernah oke. Sibuk ini itu. Gue malah heran, karena di semester yang dia jalani sekarang, kayaknya dulu gue gak sibuk-sibuk amat. Nah?

Hari demi hari berlalu, berbulan-bulan, setiap berpapasan dia bahkan enggan menyapa. Gue jadi seperti orang bodoh. Kebingungan. Ini kenapa sebenarnya? orang yang bersangkutan juga tutup mulut. Aneh karena kayaknya baru saja gue mendengar dia ngomong tanpa henti cerita ini itu di telpon, dan sekarang melihat muka gue pun dia tak mau. Satu-satunya alasan yang valid dia bersikap seperti itu, mungkin gara-gara sms gue kemarin, dia kira itu modus pdkt gue. Dia kira gue suka sama dia dan dia ilfil dan dia menjauh. Nah, gue pun mulai berpikir yang aneh-aneh kan?

Tapi, tunggu, jadi apa hubungannya antara gue di kafe sendiran, nulis blog, film When Harry Met Sally, dan dia itu? 

Nah, kenapa gue tiba-tiba nyeritain dia padahal tadinya gue nyeritain film adalah karena, saat ini, di kafe 22, gue melihat orang yang gue sebut sebagai 'dia' berdiri celingak-celinguk hanya beberapa meter di depan gue. 

Ngapain dia? apakah pacar barunya fans Arsenal juga? apakah apakah? 

Apapun itu, setelah semua yang dia lakukan, gue gak mau peduli. Gue harus cuek. Jangan pandang. Pura-pura gak tahu aja. Karena kafe udah penuh, dia melihat-melihat sekeliling dan semakin lama semakin mendekati tempat gue duduk. Gue harus pasang muka ketus. Muka sakit perut. Atau mengernyitkan kening. Dia makin mendekat. Gue membuang muka. Tapi kenapa? gue tidak harus membuang muka. Gue harusnya biasa aja. Pura-pura gak kenal. Oke ini saatnya cuek. Pasang tampang marah. Harus seram biar meyakinkan. Dan waktu gue membuang pandangan kedepan. Mata kita pun bertatap-tatapan.

Hening.

"Eh, hai, bang" katanya.

Dan tanpa sengaja, gue tersenyum. 




Read more >>

Confessions of a Broken Hearted Man

Diposkan oleh Fauzi ON 06 April 2013

Gue heran mengapa segala sesuatunya begitu cepat berubah. Dimana teman-teman gue? Semuanya sudah punya pasangan masing-masing. Mereka melupakan gue. Melupakan gue yang setia mendengarkan curhat mereka tentang si ini, si itu, yang gue bahkan tidak tahu apakah si ini si itu adalah laki-laki atau perempuan, manusia atau bukan. Gue hanya mendengarkan karena mereka butuh didengar. Mereka yang dulu kesepian. Mereka yang sekarang? Terkena Amnesia. Atau mungkin Alzheimer. Mereka bahkan lupa kalau punya seorang teman yang masih jomblo. Seorang teman yang sekarang hanya bisa duduk sendiri seperti orang bodoh setiap malam minggu.

Gue bahkan tidak punya siapapun untuk diajak bicara malam ini. Malam minggu biadab.

Berapa umur gue sekarang? 22 tahun. Gue sudah ada selama 22 tahun dan gue bahkan tidak mengerti satu hal pun. Gue tidak mengerti kenapa gue masih jomblo. Mungkin karena gue hanya orang biasa. Tidak ada yang spesial. Wajah rata-rata. Tinggi, berat, dan kapasitas otak bahkan dibawah rata-rata. Kata orang, laki-laki seperti gue susah dapat pacar. Sialnya itu benar.

Gue kuliah di fakultas yang hampir 75% mahasiswanya adalah perempuan dan gue masih jomblo. Fakta mengerikan seperti itu mungkin hanya bisa dijelaskan oleh satu hal : Nasib!

Gue bosan. Gue bosan mengarang jawaban. Gue bosan ketika seseorang bertanya kenapa gue masih jomblo, gue harus selalu mengucapkan omong kosong.

“Oh iya bro, gue mau fokus kuliah dulu.”

“Gue belum nemu yang pas aja sih, boy.”

“Males pacaran dulu nih eike.”

Can you believe that sh*t? Gue laki laki. Gue bukan homo. Jelas gue pengen punya pacar. Ah!

Jadi ini rencana gue. Gue harus berubah. Hidup ini singkat. Gue harus berbuat lebih banyak. Gue harus berhenti menjadi orang bodoh dan melakukan hal yang lebih berguna. Apa yang harus gue lakukan. Gue harus jatuh cinta. Gue harus punya pacar. Realistis saja. Gue tidak butuh yang cantik ajegile. Yang seperti Atiqa Hasiholan. Itu aja udah cukup. Kenapa gue tidak mulai saja malam ini. Gue punya banyak kenalan perempuan. Beberapa diantaranya jomblo. Mengapa tidak gue telpon saja mereka? Atau sms? Apa yang harus gue tulis? Gue tidak mengerti. Gue tidak mengerti satu hal pun.

Bagaimana dengan kalian? mengerti apa yang gue rasakan? ah sudahlah. Semoga malam minggu depan akan berbeda. Semoga saja.


Read more >>