The Ugly Truth

Diposkan oleh Fauzi | 10:53 |
Share


14
Gue sedang berbaring di tempat tidur, antara terjaga dan bangun, teringat tweet yang dimentionkan ke gue tadi malam

@someone : @pojikk RT @RadioGalauFM Ngarep sama orang yang gak pengen-pengen banget sama kita itu rada bego juga sih.

Dalem banget. Jika ngarep yang seperti itu dilakukan untuk sebuah percintaan bolehlah disebut bego. Tapi jika untuk hubungan pertemanan, mengharapkan yang seperti itu, apa namanya? totol mungkin.

@pojikk : "Berarti mereka gak pengen2 banget sama aku dong ya?" tanya gue singkat.

@Someone : "Yaa begitulaa jii.." Balasnya.

Buat gue, ini lebih dari hanya sekedar kenyataan pahit. Ini namanya . . . sesuatu!

15
Kejadian-kejadian yang gue alami dalam beberapa hari terakhir ini memberikan gue ide untuk menulis sebuah cerita pendek. Rencananya cerpen ini akan gue kirimkan ke tabloid remaja lokal. Maka, pukul delapan lewat lima belas menit gue langsung pergi ke warnet sebelah rumah. Sebuah warnet game online 24 jam. Operatornya adalah temen gue yang sedang menjalani liburan semester sambil kerja.

"Wah, pagi-pagi tampangmu udah kusut aja zi. Belum bisa move on juga?" candanya ketika melihat gue memasuki warnet dengan wajah tertekuk.

"Jelasin dulu arti 'move on' ke aku, baru ngomong!" Sindir gue. Dia diam saja. Gue yakin, sama seperti gue, dia pasti tidak tahu persis definisi 'move on" yang dia sebutkan tadi dan malas untuk membahasnya.

16
Selesai menulis cerpen , gue sign in ke Yahoo Messenger yang sudah lebih dari sebulan tidak gue buka. Account Yahoo Messenger gue hanya berisi 20 kontak teman. Ke 20 orang itu adalah orang pilihan yang menurut gue sangat asyik diajak chatting dan membahas apa saja. Dengan memasang mode 'insivible' gue pun melihat siapa yang sedang online. Gue melihat si gadis berkacamata available. Kebetulan, pikir gue.

17
Gue bisa bilang gadis berkacamata yang ada di daftar kontak gue itu adalah gadis yang open-minded. Gampang diajak ngobrol bahkan hal aneh sekalipun. Tapi, dia juga seorang introvert sejati. Selain suka cuek tanpa aba-aba, dia juga sangat pintar dalam mengakhiri pembicaraan secara sepihak. Jika bukan karena status 'senior yang gue sandang, atau jika gue bukan orang yang gemar dalam mengambil inisiatf duluan, gue mungkin tidak akan pernah ditanggapi olehnya.

18
Ada peraturan tak tertulis yang gue buat sendiri jika ingin memulai sebuah pembicaraan dengannya. Gue harus tahu benar apa yang akan gue bicarakan. Basa-basi jelas dilarang. Maka jangan heran jika kalimat sapaan untuk membuka chatting gue bisa jadi sebuah kalimat yang panjang seperti ini : (Gue menyamarkan namanya sebagai stu)

"Stu, mau minta tolong. Aku nulis cerpen. Proyeksinya untuk dikirim ke tabloid lokal. nah, boleh minta dikomentarin enggak?"

Dan untunglah kalimat sapaan super to the point itu dibalas dengan baik.

"Oh boleh bang. Mumpung lagi gak ada kerjaan nih. Mana cerpennya?"

Gue pun mengirim naskahnya via YM, memberikan waktu kepadanya untuk membaca dan menantikan responnya terhadap isi cerpen itu.

19
Sebenarnya, cerpen apa sih yang gue tulis?
Gue hanya menulis sebuah komedi muram dengan pesan tersirat yang mungkin hanya akan ditemukan jika cerpen itu dibaca dengan hati.
Cerpen itu kisah gue sendiri.

20
Satu jam kemudian, gue chat dia lagi.

"Gimana?" Tanya gue.

"Haha, ada-ada aja bang cerpennya."

Sebenarnya "haha" saja sudah merupakan pertanda bagus. Tapi yang gue harapkan dia bisa membaca pesan yang gue selipkan si tiap paragraf dalam cerpen itu.

"Apanya yang 'ada-ada aja'?" Tanya gue memancing.

"Cerpennya bang, ini kejadian beneran kah?"

"Kenapa berpikir gitu?"

"Karena ada nama kakak itu disini."

Soal nama itu memang gue sengaja.

"Jadi komentarnya apa nih?"

"Ntar dulu deh, kalau ini beneran kisah yang abang alami, berarti miris banget dong ya? Abang merasa gak punya tempat lagi diantara teman-teman abang dan mencoba memberi sinyal. Tapi mereka tidak peduli dan malah menganggap tindakan abang itu kekanak-kanakan. Kasian banget."

"Kamu ini .. -_-' tapi yah memang, aku jadi merasa bego."

"Abang itu enggak bego lo."

"Oh ya? makasi hehe."

"Abang itu menyedihkan. Hahaha."

"Kenapa malah ketawa?"

"Habisnya, aneh aja."

"Apanya lagi yang aneh?"

"Itu lo, abang merasa gak punya tempat lagi diantara mereka."

"Terus?"

"Aneh kan? kenapa abang merasa gak punya tempat? Seharusnya itu bukan masalah besar. Abang kan ramping. Kan gampang nyelip tuh diantara mereka. Masa gak ada tempat sih buat orang seramping abang?"

"Haaaah? kamu ini bikin makin miris."

"Haha, btw, udah buat resolusi untuk tahun ini bang?"

"Belum. gak sempat. kenapa?"

"Mau aku buatin?"

"Apaan?"

"No more galau please!! Hihi."

"Itu namanya resolusi? doyan banget bercanda."

"Aku serius loh. Ini kalau aku enggak salah, masa kuliah abang tinggal setahun lagi kan? setahun itu bentar lo bang. Dan itu masih mau diisi dengan kegalauan yang tidak penting juga?"

Kali ini gue diam. Tidak membalas.

"Setahun lagi lo bang. Cobalah nikmati itu." Lanjutnya.

Gue tetap tidak membalas. Setahun lagi ya? waktu berjalan begitu cepat.

"Maaf bang kalau aku sok tahu." balasnya lima menit kemudian.

Gue tetap tidak menjawab. Gue berpikir. kemudian gue sign out tanpa pamit. Mencoba memikirkan rencana selanjutnya.